PATI — Suasana di kawasan galangan kapal Berkah Mina Group, Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana, berubah drastis dalam sepekan terakhir. Kamis (16/7), puluhan nelayan tampak sibuk memperbaiki jaring berwarna biru yang memenuhi area docking, mengecek perlengkapan kapal, dan mempersiapkan mesin. Pemandangan itu kontras dengan beberapa bulan sebelumnya, saat harga BBM industri melambung hingga Rp30.000 per liter dan membuat sebagian besar kapal memilih bersandar.
Biaya Operasional Tak Sebanding dengan Hasil Tangkapan
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, menjelaskan bahwa selama harga solar industri berada di kisaran Rp26.000 hingga Rp30.000 per liter, hampir tidak ada kapal yang berani melaut. Bukan karena tak mampu, melainkan perhitungan usaha menunjukkan hasil tangkapan tidak akan menutup biaya produksi.
"Kalau dipaksakan melaut dengan harga BBM yang kemarin, hasilnya tidak cukup untuk menutup biaya produksi. Nelayan justru berpotensi merugi," ujar Eko.
Dampak mahalnya BBM tidak hanya dirasakan pemilik kapal. Ribuan anak buah kapal (ABK) yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan tangkap praktis kehilangan pendapatan selama kapal-kapal itu berhenti beroperasi sejak bulan Ramadan lalu.
Harga Baru Rp15.000 per Liter: Solusi yang Dinanti
Pemerintah akhirnya menetapkan harga khusus BBM non-subsidi untuk kapal nelayan di atas 30 GT sebesar Rp15.000 per liter. Eko menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas kebijakan yang dinilai strategis dan tepat sasaran.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang telah menetapkan harga BBM industri untuk nelayan kapal di atas 30 GT. Ini menjadi solusi yang sangat kami tunggu," katanya.
Setelah kepastian harga itu turun, sekitar 350 kapal purse sine yang tergabung dalam paguyuban langsung melakukan persiapan intensif. Perbaikan kapal, pengecekan mesin, hingga pembenahan alat tangkap kini berjalan di sejumlah galangan di Juwana. Rencananya, kapal-kapal itu akan berangkat secara bertahap pada Agustus 2026 menuju Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718 di Laut Aru, Papua.
Pengusaha Kapal: Dulu Rp20.000 Saja Sudah Berat
Juwari, pengusaha perikanan asal Desa Bendar, Kecamatan Juwana, mengaku memiliki lima unit kapal tangkap yang masing-masing mempekerjakan sekitar 45 orang ABK. Selama kapal tidak melaut sejak setelah Lebaran, para pekerja itu terpaksa menganggur.
"Dengan harga yang sekarang ditetapkan pemerintah sangat membantu. Dulu saat harga Rp20.000 per liter saja sudah berat, apalagi ketika naik sampai Rp30.000 per liter," ungkapnya.
Menurut Juwari, harga Rp15.000 per liter merupakan angka yang realistis. Biaya produksi yang lebih terkendali membuat hasil penjualan ikan diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi pemilik kapal sekaligus meningkatkan kesejahteraan para ABK.
Nakhoda: Sejak Puasa Hampir Tak Ada Kapal Berangkat
Arif, nakhoda KM Mekar Jaya Barokah 6 dengan kapasitas 170 GT, menuturkan bahwa sebagian besar kapal di Juwana praktis berhenti beroperasi sejak bulan Ramadan. Selama itu, para nelayan tidak memiliki pemasukan dan hanya menunggu kepastian kebijakan BBM.
"Kemarin sejak bulan puasa hampir tidak ada kapal yang berangkat. Teman-teman nelayan tidak punya pemasukan dan hanya menunggu kepastian soal BBM," tuturnya.
Dengan harga BBM yang kini lebih seimbang terhadap nilai ekonomi hasil tangkapan, Arif optimistis sektor perikanan tangkap di Juwana akan kembali bergairah. Kapal-kapal dari daerah itu kini bersiap mengarungi Laut Aru dalam waktu dekat.