Pencarian

Dinasti Atmowidjojo di Kudus: Kisah Pelopor Industri Kretek Cap Goenoeng Kedoe dan Warisan Usaha Keluarga

Jumat, 17 Juli 2026 • 11:47:43 WIB
Dinasti Atmowidjojo di Kudus: Kisah Pelopor Industri Kretek Cap Goenoeng Kedoe dan Warisan Usaha Keluarga
Kompleks makam keluarga Atmowidjojo di Kudus menjadi saksi bisu perjalanan hidup pelopor industri kretek Cap Goenoeng Kedoe.

KUDUS — Perjalanan ziarah menelusuri jejak para pendiri industri kretek di Kota Kretek berakhir di kompleks keluarga Atmowidjojo. Ia adalah sosok di balik merek Cap Goenoeng Kedoe, salah satu pabrik kretek legendaris di zamannya.

Cicit Atmowidjojo, Ahmad Yusak, menuturkan bahwa buyutnya dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana. Penampilannya kerap membuat orang tidak percaya bahwa ia pemilik pabrik kretek besar.

“Mbah Atmo itu orangnya sangat sederhana. Banyak orang yang tidak menyangka kalau beliau adalah pemilik pabrik Goenoeng Kedoe karena penampilannya biasa saja,” tuturnya.

Warisan Kesederhanaan yang Melahirkan Pengusaha Kretek

Menurut Yusak, kesederhanaan itu justru menjadi nilai warisan yang ditanamkan kepada anak-anaknya. Atmowidjojo tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga menanamkan etos kerja dan jiwa berdagang.

“Dari keluarga ini kemudian lahir Ashadie dengan Cap Delima, Sirin dengan Garbis, Nadiroen dengan Gunung Kelapa, Roesdi dengan Sogo, termasuk Moeslich dengan Tebu Cengkeh. Mereka meneruskan tradisi usaha kretek keluarga,” jelasnya.

Putra Sulung yang Merintis Cap Delima

Putra sulung Atmowidjojo, H.M. Ashadie, mengembangkan Cap Delima setelah belajar langsung dari sang ayah. Ia mulai merintis usaha ketika Goenoeng Kedoe tengah berkembang.

Semangat berdagang yang diwariskan membuat Ashadie tumbuh menjadi pengusaha kretek yang disegani. Pada usia muda, ia bahkan telah menunaikan ibadah haji—sebuah perjalanan yang kala itu menjadi simbol keberhasilan sekaligus memperluas jaringan dagangnya.

Cap Garbis dan Manggis: Jejak Sang Adik di Era Hindia Belanda

Adik Ashadie, M. Sirin, membangun Cap Garbis dan Manggis. Nama Garbis sendiri diambil dari buah blewah yang akrab di masyarakat.

Pada dekade 1930-an, nama Sirin mulai muncul dalam surat kabar Hindia Belanda sebagai salah satu pengusaha kretek yang berkembang pesat di Kudus. Jejak bisnis keluarga ini pun tercatat dalam sejarah industri kretek nasional.

Follow www.jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglojateng.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks