PATI — Program smart city Kabupaten Pati yang sempat berjalan tiga tahun sejak 2018 akhirnya mandek akibat efisiensi anggaran saat pandemi. Kini, Komisi C DPRD setempat mendorong agar program tersebut diaktifkan kembali pada tahun anggaran 2027.
Anggaran Tersedot Penanganan Pandemi
Joni Kurnianto mengungkapkan bahwa program smart city pertama kali diinisiasi pada 2018 dengan mengadopsi konsep dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Namun, realisasi di lapangan hanya bertahan tiga tahun.
"Kenyataannya cuma berjalan tiga tahun, terhenti karena Covid sehingga anggaran kabupaten terkena efisiensi dan program berhenti," kata Joni, Kamis (9/7/2026).
Apa Saja Indikator Smart City yang Bakal Dihidupkan?
Usulan pengaktifan kembali program ini sudah disampaikan Joni saat menjadi narasumber dalam sosialisasi program smart city berkelanjutan di tahun 2026 kepada Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) selaku leading sector. Beberapa indikator yang akan dihidupkan meliputi:
- Penambahan titik layanan internet gratis di sejumlah fasilitas umum.
- Penerapan tanda tangan elektronik untuk mempercepat proses administrasi.
- Digitalisasi proses surat-menyurat di lingkungan pemerintahan.
"Nanti kita hidupkan kembali di era digital ini dan semoga berjalan berkelanjutan," tutup legislator Partai Demokrat tersebut.
Target Aktif Kembali pada 2027
Joni menargetkan program smart city bisa berjalan efektif pada tahun anggaran 2027 mendatang. Ia optimistis inisiatif ini bisa mendorong Kabupaten Pati bertransformasi menuju era digital yang serba mudah dan cepat bagi warganya.
"Program ini sangat bagus untuk menuju transformasi ke era digital yang serba mudah dan cepat," ujarnya.