SIMALUNGUN — Tantangan petani hortikultura di Indonesia kian kompleks. Serangan hama seperti ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, dan thrips kerap datang bersamaan dan sulit dikendalikan dengan satu jenis pestisida.
Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo, mengatakan bahwa selama ini petani terpaksa mencampur dua jenis insektisida berbeda dalam satu siklus tanam untuk mengatasi masalah tersebut.
“Camalus dari Bayer menjawab kesenjangan kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budidaya tanaman hortikultura,” ujarnya dalam rilis media, Rabu (8/7/2026).
Dua Bahan Aktif dalam Satu Produk
Camalus diperkuat dengan dual mode of action untuk mengendalikan hama pemakan daun (chewing) dan penusuk-pengisap (sucking) sekaligus. Bayer mengklaim produk ini menjadi insektisida pertama di kelasnya yang mampu bekerja ganda pada tanaman hortikultura.
“Perdana diperkenalkan di Indonesia, dan menjadi negara ketiga secara global setelah India dan Filipina,” sambung Kukuh.
Hasil Uji Coba: Produktivitas Naik, Biaya Turun
Proses riset dan pengembangan Camalus memakan waktu sekitar 10 tahun. Bayer mengujinya di pusat riset Bayer JUARA di Klaten, Jawa Tengah, serta ratusan uji coba lapangan di berbagai wilayah Indonesia.
Hasilnya, penggunaan Camalus disebut mampu meningkatkan produktivitas lahan dan menurunkan biaya produksi secara signifikan. “Petani tidak lagi perlu mencampur berbagai jenis insektisida,” kata Kukuh.
Ancaman Hama yang Mengintai Petani Cabai
Hortikultura menjadi subsektor prioritas nasional dengan pertumbuhan 3,85 persen pada triwulan IV 2025. Produksi cabai besar tahun 2025 mencapai 1,72 juta ton, naik 16,73 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun, hama seperti ulat daun kubis (Plutella xylostella) masih menjadi ancaman serius. Kukuh menyebut hama ini bisa menyebabkan hilangnya hasil panen 50 hingga 100 persen jika tidak dikendalikan.
Jawa Tengah Jadi Salah Satu Sentra Produksi Cabai
Provinsi dengan produksi cabai besar terbesar adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatra Utara. Sumatra Utara berkontribusi sebesar 12,53 persen dengan produksi mencapai 214,87 ribu ton dan luas panen 16,37 ribu hektare.
Dengan hadirnya Camalus, Bayer berharap petani di sentra-sentra produksi, termasuk Jawa Tengah, bisa mendapatkan solusi yang lebih efektif dan efisien dalam menghadapi tekanan hama.
“Bayer memastikan setiap solusi yang kami hadirkan telah melalui proses riset dan adaptasi yang matang terhadap kondisi agroekologi Indonesia, termasuk tekanan hama spesifik yang dihadapi petani hortikultura di Indonesia,” pungkas Kukuh.