REMBANG — Capaian 100 ribu ekor sapi menempatkan Rembang sebagai salah satu sentra peternakan di Jawa Tengah, namun sektor hilir justru menjadi titik lemah yang menghambat pengembangan industri pengolahan daging. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menyebutkan bahwa setiap tahun pihaknya menyalurkan sekitar 60 ribu dosis inseminasi buatan yang menghasilkan sekitar 30 ribu pedet dari bibit unggul.
“Total inseminasi buatan sekitar 60 ribu dosis dan setiap tahun lahir sekitar 30 ribu pedet hasil bibit unggul,” ujar Agus saat Sarasehan Petani Tembakau dan Serah Terima Alsintan di halaman Kantor Dintanpan Kabupaten Rembang, Selasa (7/7).
Bibit Unggul Rembang Laris di Luar Daerah
Kualitas bibit sapi asal Rembang telah diakui dan banyak diminati peternak dari berbagai daerah. Agus mengakui, kondisi ini menunjukkan potensi besar sektor peternakan sebagai penopang ekonomi masyarakat pedesaan.
“Ini sebenarnya potensi yang sangat besar bagi Rembang karena kita menghasilkan bibit-bibit unggul. Namun sebagian besar justru berkembang di luar daerah,” katanya.
Kendala Infrastruktur: Belum Ada RPH dan Cold Chain
Di balik peningkatan populasi, Agus mengakui pengembangan industri peternakan masih menghadapi kendala serius pada sektor hilir. Hingga kini, Rembang belum memiliki Rumah Potong Hewan (RPH) yang representatif maupun fasilitas rantai dingin (cold chain) yang memadai untuk menunjang distribusi produk daging ke pasar yang lebih luas.
“Kendalanya kita belum memiliki RPH yang representatif dan rantai dingin yang layak sehingga belum bisa mengirim produk daging ke luar daerah secara optimal,” terangnya.
Vaksinasi PMK Tertinggi di Jateng Jaga Produktivitas
Selain fokus pada peningkatan populasi, pemerintah daerah juga mengupayakan menjaga kesehatan ternak melalui program vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Agus mengklaim, capaian vaksinasi PMK di Rembang termasuk yang tertinggi di Jawa Tengah.
“Vaksinasi PMK kita termasuk yang tertinggi di Jawa Tengah. Insyaallah kondisi ternak di Rembang aman dari PMK,” ungkapnya.
Pekerjaan Rumah: Mengubah Rembang dari Pemasok Bibit Jadi Pusat Industri
Tanpa infrastruktur hilirisasi yang memadai, Rembang masih lebih banyak berperan sebagai penghasil bibit sapi unggul dibanding sebagai pusat industri pengolahan hasil peternakan. Padahal, penguatan sektor hilir berpotensi membuka lapangan kerja baru, meningkatkan nilai ekonomi ternak, sekaligus memperkuat daya saing produk peternakan asal Rembang. Pemerintah daerah pun dihadapkan pada pekerjaan rumah untuk segera merealisasikan pembangunan RPH dan rantai dingin agar potensi besar ini tidak terus mengalir keluar daerah.