SOLO — Anik, seorang pedagang telur ayam di Pasar Legi Solo, mengaku mulai mengurangi jumlah stok barang dagangannya sejak harga mengalami penurunan drastis beberapa pekan terakhir. Ia kini hanya berani menyetok 40 kotak telur per hari, turun 20 persen dari jumlah biasanya yang mencapai 50 kotak.
"Kalau harga lagi turun begini, saya pilih kurangi stok. Daripada nanti malah numpuk dan malah bikin rugi lebih besar," ujar Anik saat ditemui di kiosnya, Senin lalu.
Harga Anjlok, Pedagang Pilih Pasang Badan
Fluktuasi harga telur ayam di tingkat pedagang eceran Solo memang kerap terjadi, namun penurunan kali ini dinilai cukup dalam. Anik menyebut, harga jual di lapangan sempat tidak sebanding dengan harga beli dari distributor, sehingga margin keuntungannya nyaris hilang.
"Kalau stok banyak tapi harga jual jatuh, yang rugi ya kami. Makanya saya lebih hati-hati sekarang. Daripada ambil banyak, mending ambil secukupnya," tambahnya.
Stok Melimpah, Daya Beli Menurun
Kondisi ini diperparah dengan daya beli masyarakat yang cenderung stagnan. Anik mencontohkan, saat harga telur masih stabil, permintaan dari pembeli rumahan dan pemilik warung makan cukup tinggi. Namun ketika harga mulai tidak menentu, banyak pelanggan yang memilih mengurangi porsi belanja atau beralih ke sumber protein lain yang lebih murah.
Meski demikian, Anik memastikan pasokan telur dari peternak masih melimpah. "Dari pusat (distributor) stoknya banyak, cuma kami yang di pasar ini yang harus pintar-pintar ngatur," katanya.
Pedagang Berharap Harga Segera Stabil
Anik berharap harga telur ayam bisa segera kembali normal dalam waktu dekat. Jika tidak, ia khawatir harus kembali memangkas stok lebih dalam lagi, yang ujung-ujungnya bisa memicu kelangkaan di tingkat eceran.
"Kami pedagang kecil ini kan maunya harga yang wajar-wajar saja. Tidak usah naik turun seperti ini. Biar kami juga bisa jualan dengan tenang," pungkasnya.