SEMARANG — Sistem RECULA dirancang untuk menyelesaikan dua masalah klasik di area TPA: polusi udara dari gas metan dan bau menyengat akibat air lindi. Ketua tim, Naurah Safa Labibah, mengatakan teknologi yang dikembangkan menggunakan metode tepat guna yang ramah lingkungan dan terukur.
"Inovasi RECULA dirancang sebagai sistem kawasan terpadu menggunakan teknologi tepat guna untuk mengelola lindi, plastik, dan mikroplastik," ujar Naurah dalam keterangannya, baru-baru ini.
Tiga Pilar Utama: Dari Lindi Jadi Listrik, Plastik Jadi Paving Block
Sistem ini mengintegrasikan tiga teknologi sekaligus dalam satu rantai pemrosesan. Pertama, teknologi anaerobic digestion lindi yang mengubah cairan beracun dari tumpukan sampah menjadi biogas. Kedua, remediasi sungai bertingkat untuk menyaring mikroplastik dan polutan di aliran air sekitar TPA.
Ketiga, panas yang dihasilkan dari pembakaran biogas tidak dibuang percuma. Energi termal itu dimanfaatkan untuk mendaur ulang limbah plastik residu menjadi eco paving block. Seluruh proses dirancang saling terhubung sehingga tidak menyisakan limbah berbahaya ke lingkungan.
Kolaborasi Lintas Fakultas untuk Transisi Energi
Tim RECULA terdiri dari mahasiswa dari tiga fakultas berbeda. Selain Naurah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), ada Aulia Keyla Chairunisa dan Muhammad Rafly Andika Putra. Dari sisi saintifik, mereka menggandeng Loisa Margaret Ambarita dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM) serta Faishal Rahman Irawan dari Fakultas Teknik (FT).
Di bawah bimbingan dosen Yohanes Thianika Budiarsa, tim telah menyusun standarisasi operasional untuk lima tahun ke depan. Anggota tim, Aulia Keyla Chairunissa, menegaskan proyek ini sejalan dengan agenda Pelestarian Lingkungan PKM 2026 dan diproyeksikan bisa mempercepat transisi energi bersih di TPA-TPA Indonesia, dimulai dari Jawa Tengah.