BANJARNEGARA — Lahan tidur bekas Perkebunan Inti Rakyat (PIR) teh di Banjarnegara akhirnya kembali bernapas. Melalui program Revolusi Lahan (Revola) Jateng, kawasan yang terbengkalai selama 12 tahun itu kini dikelola dengan sistem pertanian terpadu berbasis teknologi atau integrated smart farming.
Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, pengelolaan lahan ini menjadi percontohan bagi daerah lain di Jawa Tengah. Sebanyak 22 stakeholder dilibatkan dalam operasionalnya, dengan pembagian tugas yang jelas antara generasi tua dan milenial.
"Petani generasi tua atau senior lebih pada pengolahan lahan sedangkan generasi muda menangani teknis yang berkaitan dengan teknologi smart farming seperti drop irrigation, drone, alat pendeteksi kelembaban tanah dan air, dan lainnya," kata Tavares di Semarang, belum lama ini.
Empat Level Optimalisasi: dari Alpukat hingga Peternakan Kambing
Lahan seluas 10 hektare itu tidak diolah secara seragam. Distanak Jateng membaginya dalam empat level pemanfaatan agar nilai ekonominya maksimal dan risikonya tersebar.
- Dua hektare pertama ditanami alpukat dan kopi.
- Lahan kurang dari setengah hektare difungsikan untuk peternakan ayam dan kambing atau domba.
- Area lain digunakan untuk tanaman holtikultura seperti cabai, pisang, dan terong.
- Sisanya dialokasikan untuk tanaman pangan, yakni jagung dan padi.
Pembagian ini dinilai strategis karena memadukan komoditas dengan waktu panen berbeda. "Jadi ini lahan yang 12 tahun tidak dikerjakan apa-apa. Menariknya, ini lahan bekas PIR lokal teh yang akan dikembalikan ke masyarakat. Revola Jateng ini menjembatani untuk pengolahan lahan agar produktif," jelasnya.
Target: 625 KK Miskin Naik Kelas
Dampak program ini langsung menyentuh warga sekitar. Distanak mencatat 625 KK miskin di Banjarnegara terlibat aktif, baik sebagai penggarap, perawat ternak, maupun operator teknologi pertanian.
Dari hasil panen dan peternakan yang mulai berjalan, nilai produksi lahan ini diperkirakan menembus Rp1,9 miliar. Angka tersebut diharapkan mampu mengubah status ekonomi para peserta.
"Ada 625 KK miskin yang terlibat di daerah itu, dan kita harapkan bisa naik kelas menjadi tidak miskin," tegas Tavares.
Daerah Lain Mulai Mengantre
Keberhasilan pilot project di Banjarnegara memicu minat daerah lain. Tavares menyebutkan sudah ada beberapa kabupaten yang mengajukan diri untuk mengikuti pola serupa.
"Sudah ada beberapa daerah yang mengajukan, ke depan akan kami coba arahkan ke daerah-daerah lain," pungkasnya.
Dengan model ini, pemerintah tidak hanya menggarap lahan tidur, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian berbasis teknologi. Ke depan, Revola Jateng berpotensi menjadi solusi bagi banyak wilayah yang memiliki lahan produktif namun terbengkalai.