SEMARANG — Kabar duka datang dari keluarga Yurizal, pasien pengguna BPJS yang sebelumnya viral karena mengeluhkan antrean panjang di sebuah rumah sakit. Melalui akun Threads miliknya, keluarga mengonfirmasi bahwa Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026 setelah kondisinya kritis dan terlambat mendapatkan penanganan medis.
"Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin karena terlambat RS tangani karena sudah gawat banget. Maafin sepupu saya kalau curhat begini di Threads. Sebelumnya dia sakit enggak pernah cerita ke mana-mana, bahkan ke keluarga. Sudah ya, jangan ada hate lagi di sini," tulis anggota keluarga dalam kolom komentar unggahan tersebut.
Kronologi Curhat Pasien yang Berujung Petaka
Peristiwa ini bermula dari unggahan akun Threads @yurizaltrich pada Selasa, 4 Agustus 2026. Dalam unggahannya, Yurizal mengeluhkan pengalamannya menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit.
"8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya soalnya gua pake BPJS," tulis Yurizal seperti dikutip dari unggahan yang kini viral.
Komentar Kontroversial Dokter Awardee LPDP
Alih-alih mendapat empati, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar bernada merendahkan. Salah satu yang paling menjadi sorotan berasal dari akun @erudarahaadini yang diketahui merupakan milik dr. Elda Putri Rahardini, seorang dokter sekaligus awardee LPDP.
"PP-nya kaya orang have tapi aslinya haven't kah? Haven't some brain cells," tulis dr. Elda dalam komentarnya.
Komentar serupa juga dilontarkan oleh dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Benny C. Sihombing, melalui akun Threads @bennychrstn. Ia menilai lamanya antrean bukan disebabkan status kepesertaan BPJS, melainkan karena kapasitas rumah sakit yang penuh.
"Kalau full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? Enggak ada hubungannya sama BPJS atau enggak BPJS. Yang pakai banyak, otomatis yang dirawat juga banyak, enggak cuma kamu sendiri," tulisnya.
Komentar Tak Berempati yang Tuai Kecaman
Dalam komentar lanjutan, akun @bennychrstn bahkan menyebut ruang jenazah sebagai tempat yang selalu kosong. "Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakat malam begini," sambungnya.
Komentar bernada negatif juga datang dari akun @nouzzha_kim yang diduga kuat bekerja di lingkungan rumah sakit. Dugaan itu muncul karena bio akun Instagram yang terhubung bertuliskan "Part of General Hospital of Regional".
"Yuriz orang miskin harta, miskin ilmu, miskin akhlak tapi pengin rumah sakit istimewain. Delapan jam sangat-sangat wajar apalagi kalau itu RS rujukan nasional," tulis akun tersebut.
Warganet Sesalkan Kurangnya Empati Tenaga Medis
Setelah kabar meninggalnya Yurizal tersebar, banyak warganet yang menyayangkan komentar-komentar bernada merendahkan yang muncul terhadap pasien yang tengah mencari pertolongan medis. Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan akses layanan kesehatan bagi pengguna BPJS di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.
Hingga berita ini diturunkan, unggahan asli Yurizal dan komentar-komentar kontroversial tersebut masih terus menjadi perbincangan hangat di media sosial. Belum ada tanggapan resmi dari pihak rumah sakit maupun BPJS Kesehatan terkait peristiwa ini.