Pencarian

Wayang Potehi Pentas 12 Hari di Klenteng Tien Kok Sie Solo, Wawali Sebut Simbol Toleransi dan Keberagaman

Minggu, 02 Agustus 2026 • 12:40:31 WIB
Wayang Potehi Pentas 12 Hari di Klenteng Tien Kok Sie Solo, Wawali Sebut Simbol Toleransi dan Keberagaman
Wayang Potehi dipentaskan selama 12 hari di Klenteng Tien Kok Sie Solo sebagai bagian dari pelestarian budaya.

SOLO — Klenteng Tien Kok Sie di kawasan Pasar Gede menjadi panggung perayaan budaya selama 12 hari penuh. Pagelaran Wayang Potehi 2026 yang digelar sejak Sabtu (1/8/2026) ini menghadirkan seni boneka sarung tangan khas Tionghoa yang telah mengakar di Nusantara sejak abad ke-17.

Wayang Potehi, yang namanya berasal dari bahasa Hokkian—po berarti kain, te berarti kantong, dan hi berarti wayang—membawakan kisah-kisah klasik Tiongkok. Cerita yang diangkat sarat nilai kepahlawanan, kesetiaan, kebajikan, dan keadilan.

Warisan Budaya yang Hidup di Tengah Kota Budaya

Kehadiran pagelaran ini bukan sekadar hiburan. Bagi Kota Surakarta yang dikenal kuat dengan keberagaman budaya, Wayang Potehi menjadi bukti akulturasi yang berlangsung lama dan tetap lestari hingga kini.

Pembukaan acara ditandai dengan sambutan dari Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani. Ia memberikan apresiasi kepada Yayasan Klenteng Tien Kok Sie yang konsisten menyelenggarakan pagelaran ini sebagai upaya menjaga warisan budaya.

"Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Klenteng Tien Kok Sie beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan Pagelaran Wayang Potehi 2026 sebagai wujud nyata pelestarian seni dan budaya tradisional yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa," ujar Astrid dalam sambutannya.

Bukan Sekadar Pertunjukan, Melainkan Ruang Dialog Budaya

Menurut Astrid, Wayang Potehi memiliki nilai sejarah, filosofi, dan budaya yang memperkaya mozaik kebudayaan Kota Surakarta. Pagelaran ini dinilai menjadi ruang dialog budaya yang mampu mempererat kerukunan antarumat beragama.

"Melalui kesenian, kita belajar bahwa keberagaman bukanlah perbedaan yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan," kata Astrid.

Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen terus mendukung kegiatan pelestarian budaya, baik budaya lokal maupun yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kota Solo. Semakin banyak ruang bagi pelaku seni, semakin kuat identitas Surakarta sebagai Kota Budaya.

Generasi Muda Diajak Menjaga Warisan Leluhur

Astrid menekankan pentingnya peran generasi muda dalam pelestarian ini. Pagelaran budaya diminta menjadi sarana belajar untuk mengenal dan mencintai warisan bangsa.

"Jangan biarkan warisan budaya hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi jadikan sebagai inspirasi untuk terus berkarya dan melestarikannya di masa depan," pesannya.

Usai membuka acara, Astrid menerima cenderamata dari Yayasan Klenteng Tien Kok Sie berupa satu tokoh Wayang Potehi dan keramik bergambar ikan koi. Dalam filosofi Tionghoa, ikan koi melambangkan kemakmuran, keberuntungan, ketekunan, dan harapan akan kesuksesan—nilai yang selaras dengan semangat Surakarta merawat keberagaman dan harmoni.

Follow www.jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mettanews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks