JAWA TENGAH — Insiden tragis yang menewaskan tiga orang di Twin Falls, Idaho, pekan lalu membuka celah keamanan yang selama ini jarang disadari pemilik mobil listrik: kendaraan yang sedang mengisi daya tidak bisa langsung melaju saat darurat. Konektor pengisi daya terkunci otomatis selama arus listrik mengalir, sehingga pengemudi harus membuka kunci melalui layar sentuh terlebih dahulu sebelum bisa kabur.
Situasi ini mendorong ratusan pemilik Tesla di platform X untuk saling membagikan kode referal pembelian EVject, sebuah adaptor putus-putus yang dijual seharga US$ 299 atau sekitar Rp 4,7 juta. Produk itu dirancang agar kabel charger terlepas otomatis saat mobil digas, sehingga pengemudi bisa langsung pergi tanpa membuang waktu.
Yang luput dari promosi viral itu adalah sejarah hukum EVject. Pada 2024, Tesla membawa perusahaan tersebut ke pengadilan California dengan tuduhan risiko keselamatan. Dalam dokumen gugatannya, Tesla mengklaim permukaan adaptor bisa mencapai suhu 100 derajat Celsius setelah 30 menit pengisian daya berarus tinggi, tanpa perlindungan terhadap panas berlebih.
EVject kemudian merilis versi terbaru dengan perlindungan termal internal dan Tesla mencabut gugatannya. Namun fakta bahwa produk yang kini dipromosikan sebagai solusi darurat adalah aksesori yang pernah dianggap pabrikan sebagai risiko kebakaran tetap menjadi catatan penting.
Terlepas dari kontroversi tersebut, EVject hanya bekerja jika pengemudi menyadari bahaya dan sempat bereaksi. Dalam serangan mendadak seperti yang terjadi di Idaho, korban hampir pasti tidak memiliki kesempatan untuk memproses situasi, apalagi menyalakan mobil dan kabur. Perangkat apa pun tidak mengubah kenyataan itu.
Alat yang memangkas beberapa detik dari proses evakuasi memang punya nilai, tetapi menjualnya sebagai jawaban atas kekerasan acak terlalu berlebihan. Lebih jauh lagi, ini berisiko menciptakan rasa aman palsu di kalangan pemilik kendaraan listrik.
Kunci pengaman pada konektor pengisian daya bukanlah desain khas Tesla. Standar NACS, CCS, dan J1772 semuanya mewajibkan mekanisme penguncian selama pengisian berlangsung. Ini adalah persyaratan keselamatan untuk mencegah busur listrik dan pelepasan konektor secara tidak sengaja saat tegangan tinggi mengalir. Semua mobil listrik yang dicolok ke pengisi daya cepat memiliki batasan yang sama.
Solusi yang lebih masuk akal seharusnya datang dari pabrikan, bukan dari aksesori tambahan. Tesla punya posisi ideal karena mengontrol kendaraan dan jaringan pengisiannya sendiri. Pabrikan bisa merancang sistem pelepas darurat bawaan yang memutus aliran listrik dan membuka kunci konektor dengan satu tindakan terkonfirmasi dari kursi pengemudi.
Fitur semacam itu seharusnya menjadi standar di semua merek, bukan hanya Tesla. Setiap pabrikan dan jaringan pengisian daya perlu memikirkan bagaimana pengemudi bisa meninggalkan stasiun pengisian dengan aman dalam situasi darurat. Konektor yang terkunci ada karena alasan teknis yang kuat, sehingga jalur evakuasi juga harus dirancang dengan matang oleh pihak yang membangun kendaraan dan charger-nya, bukan oleh perangkat tambahan yang dibaut setelahnya.