Cara Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga

Penulis: Ardiansyah Putra  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 23:14:00 WIB

Jakarta - Sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran dan kulit buah sering kali hanya dibuang begitu saja, padahal bisa diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Membuat kompos sendiri di rumah juga membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Metode Takakura
Metode ini sangat cocok untuk area terbatas seperti rumah dengan lahan kecil atau apartemen. Menggunakan keranjang berlubang dan kardus sebagai media, metode Takakura memastikan sirkulasi udara yang optimal selama proses pengomposan berlangsung.

Kompos cair (liquid gold)
Kompos cair dibuat dari fermentasi sisa sayur dan buah, dicampur larutan EM4 dan gula. Prosesnya relatif cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu hingga siap digunakan sebagai pupuk cair untuk tanaman.

Vermikompos
Metode ini memanfaatkan cacing tanah untuk mengurai bahan organik. Cacing membantu mempercepat proses dekomposisi sekaligus menghasilkan kompos dengan kualitas yang lebih tinggi dibanding metode konvensional.

Bahan dan cara pembuatan:

  • Masukkan sampah organik secara bertahap setiap hari ke dalam wadah kompos.
  • Campurkan dengan tanah dan serbuk gergaji untuk membantu proses penguraian.
  • Tambahkan kapur untuk mempercepat pengomposan, serta kotoran hewan agar kandungan unsur hara lebih tinggi.
  • Gunakan sisa makanan yang berasal dari tanaman, seperti sayuran, kulit bawang, dan buah-buahan.
  • Hindari memasukkan sisa makanan dari hewan, seperti daging atau ikan, karena berisiko mengundang tikus dan menimbulkan bau tidak sedap.

Kompos yang sudah jadi ditandai dengan warna cokelat kehitaman, berbau seperti tanah, dan bertekstur berbutir halus. Proses pengomposan yang benar seharusnya tidak menimbulkan bau menyengat, sehingga aman dilakukan meski di lahan terbatas seperti halaman rumah.

Kompos hasil olahan sendiri bisa langsung digunakan untuk memupuk tanaman hias, sayuran, maupun tanaman buah di rumah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya terus meningkat.

Aduk kompos secara berkala, sekitar seminggu sekali, untuk memastikan sirkulasi udara merata dan mempercepat proses penguraian bahan organik di dalamnya. Pengadukan yang rutin juga membantu mencegah munculnya bau tidak sedap akibat proses fermentasi yang tidak merata.

Selain bermanfaat bagi tanaman, kebiasaan membuat kompos sendiri juga mengajarkan pola hidup lebih ramah lingkungan kepada seluruh anggota keluarga, khususnya anak-anak, tentang pentingnya mengelola sampah organik secara bijak sejak dini.

Letakkan wadah kompos di area yang teduh dan memiliki sirkulasi udara baik, seperti halaman belakang atau dekat dapur, agar proses pemantauan dan penambahan bahan organik setiap harinya lebih mudah dilakukan tanpa harus berjalan jauh dari rumah.

Reporter: Ardiansyah Putra
Back to top