TEGAL — Kota Tegal selama ini dikenal memiliki budaya kuliner yang kuat, mulai dari warteg yang tersebar di berbagai daerah Indonesia, teh poci yang melegenda, hingga sate kambing muda yang menjadi ikon lokal. Namun, di balik makanan yang sudah populer tersebut, terdapat sejumlah kuliner tradisional yang mulai kehilangan tempat di hati masyarakat, terutama generasi muda yang lebih akrab dengan tren makanan viral.
Perkembangan zaman membuat beberapa makanan khas Tegal yang dulu mudah ditemukan di pasar tradisional kini mulai sulit dicari. Jumlah pembuatnya semakin berkurang dan regenerasi penjual tidak berjalan dengan baik.
Padahal, makanan-makanan tersebut bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Tegal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu makanan yang mulai langka adalah glotak. Nama kuliner ini mungkin masih asing bagi sebagian orang di luar Tegal, tetapi bagi masyarakat lokal, glotak menyimpan nilai nostalgia tersendiri.
Makanan ini biasanya dibuat menggunakan gembus atau ampas tahu yang dimasak dengan berbagai bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, dan rempah lainnya. Sekilas terlihat sederhana, tetapi cita rasanya sangat khas dengan tekstur lembut, gurih, sedikit pedas, dan aroma rempah yang kuat.
Dahulu, glotak sering menjadi menu rumahan karena bahan dasarnya murah dan mudah didapat. Keunikan glotak justru terletak pada penggunaan gembus sebagai bahan utama, yang menunjukkan kreativitas masyarakat Tegal dalam mengolah bahan sederhana menjadi makanan lezat.
Namun, kini makanan ini mulai sulit ditemukan karena semakin sedikit orang yang mempertahankan resep tradisionalnya. Berbeda dengan makanan modern yang menggunakan bahan mahal, glotak justru lahir dari keterbatasan yang diolah secara kreatif.
Berbeda dengan warteg atau teh poci yang masih eksis, makanan seperti glotak tidak banyak dikenal oleh anak muda. Generasi sekarang lebih akrab dengan makanan modern dan tren kuliner viral yang muncul di media sosial.
Regenerasi penjual yang tidak berjalan dengan baik menjadi faktor utama semakin langkanya kuliner ini. Jika tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin makanan khas Tegal ini hanya akan menjadi cerita bagi generasi mendatang.