SLAWI — Kiprah akademisi asal Kabupaten Tegal kembali menembus panggung riset internasional. Ratnawati, M.Pd.I., dosen IBN University, terbang ke Kamboja pada Minggu (27/7/2026) untuk meneliti jejak perjuangan komunitas Muslim Cham.
Penelitian bertajuk "Penguatan Identitas Minoritas melalui Pendidikan Islam: Sejarah dan Tantangan Muslim Cham Pasca Khmer Merah (1980–2025)" ini menyoroti ketahanan sosial-keagamaan masyarakat Muslim di kawasan Indochina. Tim akan mengobservasi langsung lembaga pendidikan Islam, surau, dan permukiman Muslim Cham di sejumlah wilayah Kamboja.
Komunitas Muslim Cham merupakan kelompok minoritas yang mengalami tekanan berat pada masa pemerintahan Khmer Merah. Penelitian ini ingin mengungkap bagaimana mereka bertahan menjaga tradisi, identitas, hingga sistem pendidikan Islam setelah tragedi kemanusiaan tersebut.
Tim peneliti akan melakukan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pendidik, sejarawan, dan ulama setempat untuk menggali data primer. Selama dua pekan di Kamboja, agenda riset telah disusun secara intensif.
Keberangkatan Ratnawati merupakan implementasi program penelitian yang memperoleh pendanaan kompetitif melalui skema LITAPDIMAS Kementerian Agama RI. Proyek ini merupakan kerja sama antara IBN University Tegal dan UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto.
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IBN University, Assoc. Prof. Dr. Syamsul Falah, M.H.I., menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis memperkuat kualitas riset dosen sekaligus memperluas jejaring akademik internasional.
"Ini menunjukkan bahwa sinergi antarperguruan tinggi Islam mampu menghasilkan penelitian yang memiliki daya saing global," kata Syamsul Falah, Senin (27/7/2026).
Ratnawati bertolak dari Indonesia pukul 14.55 WIB dan tiba di Techo International Airport, Kamboja, pukul 17.35 waktu setempat. Rangkaian kegiatan meliputi observasi ke lembaga pendidikan Islam dan permukiman Muslim Cham di beberapa daerah.
Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran utuh mengenai ketahanan sosial-keagamaan masyarakat Muslim minoritas di Indochina. Langkah ini juga membuktikan bahwa perguruan tinggi Islam di daerah mampu bersaing dalam riset global.