SOLO — Program kolaboratif penanganan sampah plastik di sungai yang digagas Pemerintah Kota Surakarta bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia resmi berjalan. Peluncuran perdana digelar di Pendopo Kecamatan Laweyan, Jumat (10/7/2026), menandai dimulainya implementasi proyek percontohan yang ditargetkan rampung pada 2027.
Solo terpilih mendampingi Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, dan Bali dalam proyek bertajuk Transformasi Kolaboratif Menuju Sungai yang Lebih Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan. Nasional Project Koordinator Sekretariat TKN PSL, Ahmad Bahri Rambe, menyebut kelima kota ini diharapkan menjadi acuan bagi 514 kabupaten dan kota lain di Indonesia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi, menjelaskan bahwa intervensi lokal akan dipusatkan di aliran Kali Permulung. Dua wilayah utama yang menjadi titik fokus adalah Kecamatan Laweyan di sisi hulu dan Kecamatan Serengan di sisi hilir.
Target penanganan sampah dalam proyek ini mencapai 1.000 ton yang dibagi di kedua titik tersebut. Skema pengelolaannya dirancang berbeda dari biasanya—sampah yang diangkat dari sungai langsung diolah oleh mitra lokal tanpa harus dikirim ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Pada tahap awal, pemkot akan memasang sekat penahan sampah atau trash boom untuk mengukur volume riil sampah yang masuk ke sungai. “Dari angka tersebut, teman-teman mitra lokal dan UNDP bisa memberikan sosialisasi serta edukasi yang lebih terukur dan terstruktur agar terjadi perubahan perilaku masyarakat,” kata Herwin.
Program ini tidak hanya berfokus pada pembersihan sungai, tetapi juga mencegah kebocoran sampah dari darat. Pendekatan berbasis kinerja diterapkan, di mana organisasi sipil lokal seperti VEL dan BINTARI yang menjadi mitra akan terus dievaluasi.
Herwin menambahkan bahwa kebersihan sungai memiliki dampak linier terhadap kesehatan masyarakat. Lingkungan perairan yang bersih dari tumpukan sampah domestik dipercaya mampu meminimalisir berbagai penyakit. Pada akhirnya, hal ini ikut berkontribusi dalam menekan angka stunting melalui penyediaan sanitasi yang higienis.
Peluncuran program ini melibatkan lintas sektor, mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, Clean Rivers, Komunitas Joko Tingkir, akademisi, hingga perwakilan sektor swasta. Selain diskusi panel, acara juga dimeriahkan dengan pameran booth yang menampilkan inovasi pengelolaan sampah berbasis komunitas.