Masjid Agung Jawa Tengah, Perpaduan Arsitektur Jawa, Islam, dan Yunani

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:02:31 WIB
Masjid Agung Jawa Tengah. (Foto: NET)

JAWA TENGAH - Di tengah lanskap modern Kota Semarang, tepatnya di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, berdiri sebuah monumen peradaban yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai mahakarya seni bangun yang diakui dunia.

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan representasi fisik dari harmoni lintas budaya yang agung.

Dibangun di atas lahan seluas 10 hektare, kompleks masjid ini seolah menjadi "museum hidup" yang merekam jejak arsitektur dari berbagai belahan bumi dalam satu nafas spiritual.

Sejak peletakan batu pertama pada tahun 2001 dan diresmikan secara penuh pada tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, MAJT telah menarik perhatian arsitek, sejarawan, serta wisatawan mancanegara.

Keberanian sang arsitek, Ir. H. Ahmad Fanani, dalam memadukan tiga gaya arsitektur yang kontras—Jawa, Arab, dan Romawi (Yunani)—menghasilkan sintesis visual yang memukau.

Perpaduan ini bukan sekadar tempelan estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang universalitas Islam yang Rahmatan Lil Alamin, yang dapat diterima dan beradaptasi dengan budaya apa pun tanpa kehilangan jati dirinya.

Filosofi Harmoni Tiga Peradaban Besar

Keajaiban pertama terlihat pada siluet struktur bangunan utamanya.

Berbeda dengan masjid-masjid di Timur Tengah yang umumnya didominasi kubah bulat penuh, atap bangunan utama MAJT mengadopsi bentuk limasan (tajug) tumpuk yang merupakan ciri khas arsitektur tradisional Jawa.

Bentuk atap yang mengerucut ke atas ini memiliki makna filosofis vertikal, yakni hubungan hamba dengan Tuhannya (Hablum Minallah).

Namun, tepat di puncak limasan tersebut, bertengger sebuah kubah besar berdiameter 20 meter, yang menyimbolkan nilai-nilai Islam sebagai naungan yang menyatu dengan budaya setempat tanpa menghilangkannya.

Kontras yang menawan hadir secara dramatis di area plasa depan atau alun-alun.

Pengunjung disambut oleh deretan 25 pilar kolosal yang melengkung setengah lingkaran, membentuk gerbang penyambut yang megah.

Struktur ini mengingatkan pada kemegahan Colosseum di Roma, Italia. Gaya arsitektur Romawi-Yunani ini memberikan kesan kokoh, megah, dan abadi.

Angka 25 pada jumlah pilar tersebut melambangkan 25 Nabi dan Rasul yang wajib diimani oleh umat Islam.

Di permukaan pilar-pilar tersebut, terukir kaligrafi Arab gaya Tsuluts yang indah, menyempurnakan pertemuan antara estetika Barat yang rasional dan spiritualitas Timur yang transenden.

Selain itu, terdapat pula empat menara sudut yang berdiri tegak mengelilingi kompleks masjid, memperkokoh kemegahan struktur bangunan dari berbagai sisi.

Atmosfer Nabawi: Teknologi Payung Elektrik

Elemen arsitektur yang paling ikonik dan menjadikan MAJT mendunia adalah keberadaan enam buah payung raksasa otomatis (elektrik) di pelataran masjid.

Payung setinggi 20 meter dengan bentangan diameter mencapai 14 meter ini mengadopsi teknologi serta desain yang serupa dengan yang ada di Masjid Nabawi, Madinah.

Indonesia patut berbangga, karena MAJT adalah salah satu masjid pertama di dunia di luar Arab Saudi yang berhasil mengaplikasikan teknologi hidrolik canggih ini.

Ketika payung-payung tersebut mekar sempurna—biasanya saat Sholat Jumat, Sholat Idul Fitri, atau acara pengajian akbar—atmosfer plasa seketika berubah drastis. Perlu diketahui bahwa area pelataran masjid ini dapat diakses secara gratis oleh masyarakat umum.

Lantai marmer yang biasanya memantulkan panas terik matahari Semarang berubah menjadi teduh dan sejuk. Angin yang berhembus di antara celah payung menciptakan suasana syahdu yang seolah membawa ribuan jemaah terbang langsung ke Tanah Suci.

Kehadiran payung ini menegaskan kiblat arsitektur Arab yang kuat, melengkapi elemen Jawa dan Romawi yang sudah ada, sekaligus menjadikan MAJT sering dijuluki sebagai "Madinah-nya Jawa".

Menara Asmaul Husna yang Menembus Langit

Eksplorasi arsitektur MAJT belum lengkap tanpa membahas Menara Al Husna yang menjulang gagah di sisi pojok barat daya.

Menara pandang ini dirancang dengan ketinggian presisi 99 meter, angka yang merujuk pada 99 nama-nama agung Allah (Asmaul Husna).

Menara ini memiliki fungsi ganda: sebagai menara adzan yang menyuarakan panggilan ilahi ke segala penjuru kota, sekaligus sebagai destinasi wisata edukasi dan rekreasi.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan kota dari ketinggian, menara ini dapat diakses dengan biaya tiket sebesar Rp10.000.

Menara ini terdiri dari 19 lantai dengan fungsi beragam.

Di bagian dasar (lantai 2 dan 3), terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah yang menyimpan koleksi artefak kuno bernilai tinggi, mulai dari naskah kuno hingga gamelan dakwah.

Naik ke lantai 18, terdapat restoran berputar (revolving restaurant) yang memungkinkan pengunjung bersantap sambil menikmati pemandangan yang bergeser perlahan. Puncaknya ada di lantai 19, sebuah gardu pandang yang dilengkapi teropong binokular.

Dari titik tertinggi ini, pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat Kota Semarang, mulai dari garis pantai Laut Jawa dan Pelabuhan Tanjung Emas di utara hingga deretan perbukitan Gunung Ungaran yang hijau di selatan.

Interior Mewah dan Simbolisme Detail

Memasuki ruang utama sholat, kemegahan arsitektur berlanjut dengan desain interior yang penuh detail dan simbolisme.

Ruangan dua lantai ini mampu menampung hingga 6.000 jemaah (dan total 10.000 jemaah jika digabung dengan plasa).

Lantai utamanya menggunakan marmer kualitas terbaik dari Italia, memberikan sensasi dingin alami.

Dindingnya dilapisi material akustik berkualitas tinggi dan dihiasi ornamen ukiran kayu jati rumit khas Jepara, serta kaligrafi yang didesain langsung oleh kaligrafer nasional.

Di bagian depan, terdapat mihrab agung dengan pigura berbentuk lorong waktu, seolah mengajak jemaah untuk khusyuk melupakan urusan duniawi dan fokus pada Sang Pencipta.

Salah satu benda pusaka yang menjadi daya tarik interior adalah Al-Qur'an Raksasa berukuran 145 x 95 cm, yang ditulis tangan oleh santri dari Pesantren Al-Asyariyyah Wonosobo, serta Bedug Raksasa "Ijo Mangunsari".

Bedug ini adalah replika dari Bedug Pendowo Purworejo, dibuat menggunakan kulit lembu Australia pilihan, yang suaranya mampu menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Fasilitas Pendukung yang Terintegrasi

Selain bangunan utama, kompleks MAJT dirancang sebagai Islamic Center terpadu yang memfasilitasi berbagai kebutuhan umat.

Di sisi kanan dan kiri masjid terdapat gedung pertemuan (Convention Hall) yang mampu menampung 2.000 orang, sering digunakan untuk resepsi pernikahan atau seminar nasional.

Terdapat pula Wisma Penginapan (Graha Agung) yang setara dengan hotel berbintang, memudahkan peziarah dari luar kota untuk bermalam.

Perpustakaan digital yang modern, poliklinik, hingga area manasik haji mini juga tersedia.

Bahkan, area taman di sekitar masjid ditata dengan sangat apik, lengkap dengan fasilitas kereta kelinci dan area bermain anak, menjadikan MAJT sebagai destinasi wisata keluarga yang ramah serta menyenangkan di akhir pekan.

Kesimpulan

Masjid Agung Jawa Tengah merupakan bukti nyata bahwa arsitektur bukan sekadar menyusun batu bata, semen, dan pilar beton. Hal ini adalah tentang menyusun nilai, sejarah, dan filosofi kehidupan.

Bangunan ini menjadi jembatan emas yang menghubungkan masa lalu Nusantara yang penuh kearifan dengan masa depan peradaban Islam yang modern dan terbuka.

Keajaiban arsitekturnya yang mendunia menjadikan MAJT bukan hanya milik warga Semarang atau Jawa Tengah, melainkan aset berharga milik seluruh bangsa Indonesia.

Berkunjung ke sini bukan sekadar berwisata mata, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang memperkaya jiwa.

Reporter: Redaksi
Back to top