Kota Tegal antara Gengsi Visual dan Hasil Nyata, Sastrawan Dorong Konsistensi Pembangunan

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 14:53:01 WIB
Diskusi di eks Bioskop Dewa membahas arah pembangunan Kota Tegal antara estetika dan fungsi nyata.

TEGAL — Diskusi yang digelar di kawasan eks Bioskop Dewa, Alun-Alun Kota Tegal itu memantik pertanyaan mendasar: apakah kota ini mengejar "Wah" atau "Woh"? M. Enthieh Mudakir, sastrawan yang juga warga Jalan Waringin, menilai wajah Kota Tegal telah bergeser dari denyut agribisnis menjadi kota wisata tujuan. Namun, perubahan situs-situs penting di jantung kota kerap mengekor pada selera wali kota yang sedang menjabat.

Posisi Geopolitik yang Belum Termaksimalkan

Kota Tegal memiliki posisi strategis karena diapit Brebes, Slawi, dan Pemalang. Menurut Enthieh, wilayah ini layak bertransformasi menjadi "ibu kota" tidak resmi bagi Jawa Tengah bagian barat. Ia bahkan mengusulkan integrasi fungsional: Brebes sebagai Tegal Barat, Slawi sebagai Tegal Selatan, dan Pemalang sebagai Tegal Timur. Kota Tegal sendiri bisa menjadi pusat agribisnis sekaligus magnet wisata utama.

Potensi itu didukung sejumlah aset sejarah di jantung kota: Alun-Alun, Taman Pancasila, Masjid Agung, Menara Air, Gedung Birao, hingga Stasiun Kereta Api. Belum lagi Makam Mbah Panggung yang masyhur sebagai destinasi religi spiritual seantero Nusantara.

Luas Wilayah Terbatas, Eksekusi Harus Cepat

Dengan luas wilayah hanya 39,24 kilometer persegi yang mencakup empat kecamatan, ruang gerak Tegal sangat terbatas. Lahan pertanian dan perikanan kian tergerus permukiman padat. "Jika pemerintah kota lambat mengeksekusi rencana induk tata kota, Tegal akan mudah tergilas oleh lompatan pembangunan daerah tetangga," ujar Enthieh.

Saat ini Rencana Induk Tata Kota Tegal tengah digodok. Akses Jalan Lingkar Utara di sisi barat telah menembus perbatasan Brebes. Namun, Enthieh mendorong terobosan lebih berani seperti pembangunan jalan tol tepi pantai dengan konstruksi cakar ayam. Infrastruktur ini dinilai penting untuk mengintegrasikan potensi pesisir sekaligus menarik pelancong lintas Jawa yang melintasi jalur Jakarta–Surabaya.

Optimalisasi Aset dan Zonasi Kuliner

Gedung Birao yang bersejarah, misalnya, bisa diberdayakan untuk pengusaha lokal: kafe UMKM, pusat kuliner, hingga kantor kemitraan. Enthieh juga mengusulkan strategi zonasi kuliner yang tegas. Jika Pantai Alam Indah dan Pantai Muarareja diplot sebagai sentra ikan bakar, maka kawasan Gedung Birao di jantung kota bisa menjadi pusat sate kambing muda, kupat glabed, dan kupat blengong.

Untuk memaksimalkan potensi wisata religi, pembenahan infrastruktur seperti gerbang timur yang ikonis dan lahan parkir representatif dinilai mendesak. Langkah ini harus segera masuk dalam lini masa perencanaan wilayah.

Keputusan Taktis di Tengah Kekhawatiran Sosial

Gagasan pembangunan infrastruktur besar seperti tol tepi pantai membutuhkan dukungan masyarakat, termasuk kesiapan mental menghadapi pergeseran sosial yang mungkin memicu kekhawatiran tokoh agama. "Pada akhirnya, untuk mencapai hasil nyata, Pemkot Tegal harus berani mengambil keputusan taktis dan strategis, sekalipun di awal terasa tidak populer," tegas Enthieh.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: jateng.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top