Riset harian BNI Sekuritas yang dirilis Senin (10/8) menunjukkan bahwa penguatan bursa saham Amerika Serikat menjadi katalis utama bagi pergerakan IHSG. Indeks S&P 500 ditutup pada level tertinggi sepanjang masa pada Jumat (7/8) setelah data nonfarm payrolls AS justru turun 23.000 pekerjaan pada Juli 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan. Angka ini meredakan kekhawatiran investor akan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Reli di bursa AS ditopang oleh sejumlah emiten besar. Saham SpaceX melonjak 15,8% setelah periode lock-up pasca penawaran saham perdana berakhir, sementara Atlassian melesat 35,3% berkat proyeksi pendapatan kuartalan di atas ekspektasi. Microchip Technology naik 13,9% dan Airbnb menguat 17,4% setelah merilis pendapatan kuartal II yang melampaui perkiraan analis. Di sisi lain, saham Trade Desk justru anjlok 21,9%.
Pelemahan data tenaga kerja AS ini menjadi sinyal bahwa bank sentral Amerika mungkin tidak perlu agresif menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut umumnya mendorong aliran modal asing masuk ke pasar emerging market, termasuk Indonesia, yang tercermin dari net buy Rp917 miliar pada perdagangan Jumat lalu.
Data BNI Sekuritas menunjukkan investor asing gencar mengakumulasi saham pada sesi sebelumnya. Saham-saham dengan pembelian asing terbesar adalah:
Masifnya aksi beli asing ini menjadi penopang utama penguatan IHSG di tengah sentimen global yang masih bervariasi. Bursa Asia sendiri cenderung melemah pada Jumat (7/8) karena investor menunggu data ketenagakerjaan AS, dengan indeks Nikkei turun 0,12% dan KOSPI melemah 0,6%.
Fanny Suherman merekomendasikan enam saham yang masuk dalam daftar trading idea untuk perdagangan hari ini. Seluruh rekomendasi menggunakan skema speculative buy dengan tingkat risiko yang lebih tinggi, kecuali MLPL yang menggunakan skema buy if break.
Berikut rincian trading plan dari BNI Sekuritas:
Dari sisi fundamental domestik, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa akhir Juli 2026 mencapai US$145,3 miliar, turun tipis dari US$145,6 miliar pada bulan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berpotensi memberi sentimen positif bagi saham-saham energi dan komoditas di dalam negeri.
Investasi mengandung risiko. Keputusan pembelian saham sepenuhnya berada di tangan investor masing-masing.