JAWA TENGAH — Pameran yang digelar di Banda Aceh ini bukan sekadar pajangan visual, melainkan ruang dokumentasi atas peristiwa banjir dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Setiap bingkai foto merekam kedalaman duka sekaligus kegigihan warga bertahan di tengah lumpur dan derasnya arus air.
Rangkaian pameran ini merupakan bagian dari peluncuran buku foto jurnalistik yang telah melalui roadshow sebelumnya di Padang. Setelah Banda Aceh, agenda berlanjut ke Medan, menjadikan pameran ini sebagai upaya berkelanjutan untuk menjaga memori kolektif bangsa terhadap tragedi kemanusiaan tersebut.
Pilihan Museum Tsunami Aceh sebagai lokasi pameran terasa simbolis. Provinsi ini masih menyimpan luka mendalam atas tsunami 2004, dan kini kembali diingatkan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi juga sama nyatanya. Para pewarta foto yang terlibat datang dari berbagai daerah, menghadirkan perspektif yang beragam namun satu tujuan: mengabadikan realitas tanpa rekayasa.
Sebagian besar karya menyoroti bagaimana warga menyelamatkan diri dan harta benda saat banjir melanda permukiman. Ada juga foto-foto yang merekam kerusakan infrastruktur, aktivitas evakuasi, hingga dapur umum yang didirikan para relawan. Tidak sedikit yang menangkap ekspresi pasrah dan harap secara bersamaan dari para korban.
Bagi pengunjung, pameran ini menjadi pengingat bahwa bencana hidrometeorologi di Sumatera bukan peristiwa yang bisa dilupakan begitu saja. Data kerusakan dan korban jiwa memang tidak tertulis di dinding museum, tetapi setiap foto berbicara lebih keras dari angka statistik.
Kurasi yang apik terlihat dari alur cerita yang dibangun. Pengunjung diajak menyusuri kronologi bencana dari awal hingga proses pemulihan, seolah berjalan bersama waktu menelusuri jejak air bah yang pernah merendam ribuan hektare lahan.
Pameran ini hadir di tengah meningkatnya frekuensi bencana serupa di berbagai wilayah Indonesia. Para pegiat lingkungan dan akademisi yang hadir dalam pembukaan menilai, dokumentasi visual seperti ini penting untuk membangun kesadaran publik tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap siklus hidrologi.
Bagi generasi muda yang mungkin tidak mengalami langsung peristiwa November 2025, pameran ini menjadi media edukasi yang efektif. Foto-foto tersebut membuktikan bahwa bencana tidak mengenal waktu dan bisa datang di luar prediksi. Museum Tsunami Aceh, yang selama ini identik dengan bencana laut, kini juga menjadi saksi atas bencana daratan.
Setelah penutupan di Banda Aceh, panitia akan mengevaluasi respons pengunjung sebelum melanjutkan ke Medan. Antusiasme warga yang datang sejak hari pertama menjadi indikator bahwa kebutuhan akan ruang refleksi semacam ini masih tinggi.