Perhutani Blora Latih Ratusan Personel dan Warga Desa Hadapi Karhutla, Simulasi Digelar di Petak 12 RPH Sambonganyar

Penulis: Qodri Anwar  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 18:29:31 WIB
Personel Perhutani Blora dan warga desa berlatih simulasi penanganan kebakaran hutan di Petak 12 RPH Sambonganyar.

Administratur KPH Blora, M. Agus Nawin Romdloni, menyebut simulasi menjadi tolok ukur kesiapan teknis personel. Latihan mencakup deteksi dini titik api, koordinasi lintas sektor, hingga teknik pemadaman agar api tak meluas ke areal hutan produksi.

Bukan Sekadar Latihan, Ada Prosedur yang Harus Dikuasai

Dalam simulasi, peserta dari jajaran Asper, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH), Polisi Kehutanan (Polhut), hingga perwakilan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) menjalani skenario penanganan tahap awal. Mereka dibekali cara membaca arah angin, menentukan titik aman, hingga penggunaan alat pemadam mekanis dan manual.

“Kami ingin memastikan seluruh personel memahami tugas dan tanggung jawabnya saat terjadi kebakaran hutan dan lahan. Dengan kesiapsiagaan yang baik, potensi kebakaran dapat segera ditangani sehingga tidak meluas,” ujar Agus Nawin Romdloni.

Sinergi dengan Warga Jadi Kunci Pencegahan

Perhutani tak bisa bekerja sendiri. Agus menegaskan pencegahan karhutla membutuhkan dukungan semua pemangku kepentingan, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Karena itu, patroli bersama dan sosialisasi digencarkan secara berkala.

Simulasi kali ini juga melibatkan pengurus Ikatan Istri Karyawan Perhutani (IIKP). Langkah ini dinilai strategis untuk menyebarkan kesadaran soal bahaya kebakaran hingga ke level keluarga.

Musim Kemarau, Ancaman Karhutla Meningkat

Blora termasuk wilayah rawan karhutla di Jawa Tengah. Tutupan hutan jati yang luas dan lahan kering di musim kemarau membuat api mudah menyebar jika tak segera diantisipasi. Perhutani KPH Blora mencatat, sebagian besar kebakaran dipicu oleh faktor manusia, baik disengaja maupun kelalaian saat membuka lahan.

Melalui simulasi rutin, perusahaan pelat merah ini berharap respons cepat bisa ditekan di bawah 30 menit sejak titik api terdeteksi. Koordinasi dengan aparat desa dan LMDH juga diperkuat agar jalur komunikasi tak putus saat darurat.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: beritajateng.tv This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top