SUKOHARJO — Para petani di Desa Bendosari, Kecamatan Sukoharjo, terpaksa mengambil tindakan darurat untuk menyelamatkan lahan pertanian mereka. Mereka secara swadaya meninggikan Bendung Cendono, sebuah bangunan pengendali air di Sungai Bengawan Solo, dengan tumpukan karung berisi pasir.
Langkah ini dilakukan karena muka air sungai turun drastis. Akibatnya, aliran air yang seharusnya masuk ke saluran irigasi primer untuk mengairi sawah menjadi sangat terbatas.
Ketua Kelompok Tani Makmur, Supardi, mengatakan bahwa tinggi bendung yang ada saat ini tidak lagi efektif menahan air. "Kami harus menambah ketinggian sekitar 50 sentimeter dengan karung pasir. Tanpa ini, sawah seluas puluhan hektare terancam puso," ujarnya kepada wartawan, Senin lalu.
Para petani bergantian mengisi karung dan menyusunnya di atas bendung. Material pasir diambil dari dasar sungai yang mulai mengering. Gotong royong ini melibatkan sedikitnya 30 orang dari tiga dusun di Desa Bendosari.
Kondisi ini sejalan dengan prediksi BMKG yang menyebutkan karakteristik musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih panjang dan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Fenomena ini sudah mulai terasa di wilayah Sukoharjo sejak dua pekan terakhir.
Kepala Desa Bendosari, Sutrisno, mengakui bahwa penanggulangan dengan karung pasir hanya bersifat temporer. "Kami sudah melaporkan kondisi ini ke Dinas Pertanian dan PUPR. Harapannya ada bantuan bronjong atau perbaikan permanen pada bendung sebelum musim tanam berikutnya," jelasnya.
Data dari kelompok tani setempat mencatat, sedikitnya 12 hektare sawah di Desa Bendosari terancam gagal panen jika pasokan air irigasi tidak segera normal. Tanaman padi yang saat ini memasuki fase generatif sangat membutuhkan air dalam jumlah cukup.
Seorang petani, Karjo (52), mengaku sudah tiga kali bolak-balik mengecek kondisi bendung sejak pagi. "Dulu air masih selutut, sekarang tinggal setengahnya. Kalau begini terus, ya terpaksa kami tanam palawija saja nanti," keluhnya.
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo melalui Dinas Pertanian disebut tengah mengkaji skema bantuan pompa air untuk daerah irigasi yang mengalami kekeringan ekstrem. Namun, hingga berita ini diturunkan, bantuan tersebut belum terealisasi.