SEMARANG — Nawal Arafah Yasin menilai koding dan robotik bukan sekadar pengenalan teknologi kepada anak. Menurutnya, dua keterampilan itu berpotensi mendukung perkembangan kecerdasan sosial dan emosional peserta didik. Karena itu, penerapannya perlu diperluas agar terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah.
Pelatihan bagi guru SD, SMP, SMA, dan SMK Jawa Tengah itu digelar Rumah Edukasi di Gedung Kuliah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang. Nawal membuka langsung kegiatan tersebut.
Lebih dari 600 Guru PAUD Sudah Dilatih Koding dan Robotik
Pokja Bunda PAUD Jateng bersama Rumah Edukasi telah memberikan pelatihan koding dan robotik berbasis STEAM kepada lebih dari 600 guru PAUD. Langkah itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pembelajaran berbasis teknologi sejak pendidikan anak usia dini.
Dukungan Nawal sejalan dengan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kepmendikdasmen) Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.
"Ini saya rasa merupakan sebuah pembelajaran penting, dan kita harus memperluas jaringan pendidikan di Jawa Tengah ini, agar mereka bisa juga coding dan robotik ini kita masukkan dalam internalisasi kurikulum dalam pembelajaran-pembelajaran yang sudah dilakukan," ucap Nawal.
Matematika dan Sains Dikemas Lewat Aktivitas Bermain
Istri Wakil Gubernur Jateng itu menyebut koding dan robotik dapat menjadi pendekatan pembelajaran yang membuat materi seperti matematika dan sains lebih menyenangkan bagi anak. Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui teori, tetapi dapat dikemas melalui aktivitas yang membuat anak belajar sambil bermain.
"Karena ternyata lebih menyenangkan, mereka bisa belajar matematika sambil bermain. Mungkin juga belajar sains itu mereka merasa sambil bermain," katanya.
Sejumlah negara telah lebih dahulu mengembangkan koding dan robotik dalam sistem pendidikannya. Jepang, misalnya, telah memulai penerapan koding sejak 2020, sementara Singapura juga mengembangkan pembelajaran coding dan AI untuk peserta didik.
Kertas dan Kardus Bisa Jadi Media, Tak Harus Robot Mahal
Nawal menekankan implementasinya tidak selalu membutuhkan biaya besar. Tantangan utama justru bagaimana sekolah dan guru memiliki komitmen untuk mengembangkan keterampilan dasar koding dan robotik, sehingga dapat diterapkan sesuai kebutuhan pembelajaran.
Guru dapat memanfaatkan berbagai media sederhana seperti kertas dan kardus untuk mengenalkan konsep koding dan robotik kepada peserta didik. Keterbatasan perangkat tidak menjadi hambatan utama.
"Kita bisa memakai banyak sekali media-media pembelajaran, selain daripada robot-robot yang mahal. Kita bisa pakai kertas, kardus dan sebagainya, untuk bisa menunjang adanya pembelajaran," ungkap Nawal.
Guru SMP Kesatrian 2 Semarang Sebut Pelatihan Tambah Ilmu
Guru SMP Kesatrian 2 Semarang, Yuda Fathoni, mengatakan sekolahnya telah mengenalkan teknologi dasar kepada siswa. Menurutnya, pembelajaran teknologi di tingkat SMP masih bersifat pravokasional, sebagai pengenalan sebelum siswa mendapatkan keterampilan lebih lanjut di jenjang SMK.
"Jadi harapannya dengan adanya kegiatan pelatihan ini, akan menambah ilmu yang bisa diterapkan untuk diaplikasikan ke pembelajaran ke anak-anak," ungkap Yuda.
Wakil Dekan I FMIPA Universitas Negeri Semarang, Zaenal Abidin, menyebut keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui peningkatan kompetensi guru.
"Harapan kami, semakin terbuka kerja sama dengan tujuan sama yaitu untuk peningkatan kualitas guru di Jawa Tengah. Mudah-mudahan ini dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya," bebernya.