BOYOLALI — Kepala Dinas Pertanian Boyolali Suyanta memimpin langsung rombongan yang terdiri dari pelaku pertanian, perwakilan perbankan, kepala desa, DPW SWI Jawa Tengah, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), akademisi, hingga tokoh pemerhati pertanian. Agenda ini menyasar perluasan wawasan soal sistem pertanian cerdas dan modern.
Tiga komoditas yang dipelajari — okra, edamame, dan buncis — dipilih karena permintaan pasar internasionalnya masih jauh melampaui kapasitas produksi pabrik. Peluang inilah yang ingin ditangkap petani Boyolali.
Mengapa Petani Diminta Melihat Langsung Proses Hulu ke Hilir
Suyanta menyebut kunjungan langsung diperlukan agar petani memahami proses produksi secara utuh, bukan sekadar teori. Dengan menyaksikan sendiri regulasi industri dan standar mutu yang berlaku, petani diharapkan tidak lagi ragu menanam tiga varietas unggul tersebut.
"Harapannya, petani harus cerdas. Jika ditopang oleh SDM yang kuat, permodalan, dan pemasaran, Insya Allah kesuksesan akan tercapai," ujar Suyanta.
Dia juga meminta peserta memanfaatkan momentum ini untuk berkolaborasi dengan pabrik. Kelompok gabungan petani (gapoktan) di desa masing-masing diarahkan menjadi pioner yang didampingi PPL dan pihak perusahaan.
Permintaan Eropa Melebihi Kapasitas Produksi Pabrik
General Manager PT Kelola Agro Makmur, Sugeng, memaparkan bahwa perusahaan yang berdiri sejak 2019 itu telah pulih sepenuhnya setelah sempat terdampak pandemi Covid-19. Sejak 2021 hingga sekarang, permintaan pasar internasional bahkan melampaui kapasitas produksi perusahaan atau overdemand.
"Permintaan dan persediaan belum seimbang, sehingga peluang untuk menanam tiga jenis komoditas ini masih terbuka sangat lebar. Kami siap bermitra dengan catatan sesuai kesepakatan kontrak tertulis yang diketahui oleh dinas terkait," kata Sugeng.
Sugeng menegaskan perusahaan akan mengawal seluruh proses budidaya sesuai Standard Operating Procedure (SOP), mulai dari penyiapan benih, pengolahan lahan, pemupukan, hingga masa panen.
Sortir Okra Jadi Pelajaran Kelas Mutu Ekspor
Selain sesi pemaparan materi, diskusi, dan tanya jawab, rombongan diajak menyaksikan langsung proses pemilahan atau sortir buah okra di dalam pabrik. Langkah ini mengedukasi peserta soal penggolongan komoditas berdasarkan kelas mutu, kualitas, dan kuantitas ekspor.
Bagi petani Boyolali, pengetahuan soal sortir menjadi bekal penting. Sebab, standar ekspor tidak hanya soal volume, tetapi juga konsistensi ukuran dan kualitas yang menentukan harga jual di pasar Eropa.
Acara ditutup dengan antusiasme peserta yang menyatakan siap membawa pulang ilmu budidaya modern untuk diterapkan di daerah masing-masing. Tindak lanjutnya, gapoktan diharapkan segera menjajaki kontrak kemitraan dengan perusahaan agar budidaya okra, edamame, dan buncis bisa berjalan berkelanjutan.