Pencarian

UNDRR Peringatkan Krisis Air, 4 Miliar Orang Hadapi Water Bankruptcy

Senin, 05 Oktober 2026 • 19:47:02 WIB
UNDRR Peringatkan Krisis Air, 4 Miliar Orang Hadapi Water Bankruptcy
UNDRR memperingatkan fenomena water bankruptcy yang berdampak pada 4 miliar orang di seluruh dunia.

JAWA TENGAH — United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) memperingatkan fenomena water bankruptcy yang berdampak pada 4 miliar orang di seluruh dunia. Sekitar 75% penduduk dunia tinggal di negara dengan ketidakamanan air, sementara 3 miliar orang menghadapi penyimpanan air yang tidak stabil. Peringatan ini muncul saat perubahan iklim mempercepat tekanan terhadap sumber daya air global.

Fenomena water bankruptcy atau kebangkrutan air bukan sekadar kelangkaan air biasa. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika manusia menggunakan air melebihi kemampuan alam untuk memulihkannya, dan menurut laporan ilmiah terbaru, kondisi ini sudah terjadi di berbagai wilayah dunia.

UNDRR menyampaikan peringatan tersebut melalui akun X resminya, dengan menekankan bahwa kebangkrutan air berarti hidup melebihi kemampuan hidrologi. Peringatan ini menjadi alarm bagi pemerintah dan pelaku industri untuk mengubah cara mengelola sumber daya air.

Apa Itu Water Bankruptcy dan Mengapa Berbeda dari Krisis Air Biasa

Istilah water bankruptcy diperkenalkan secara formal dalam laporan berjudul Global Water Bankruptcy: Living Beyond Our Hydrological Means in the Post-Crisis Era. Para ilmuwan menilai kondisi ini berbeda dari krisis atau kelangkaan air yang pernah terjadi sebelumnya.

Pada kondisi saat ini, penggunaan air secara terus-menerus telah melampaui kemampuan sumber air untuk diperbarui. Analoginya seperti keuangan: air yang dapat diperbarui secara alami adalah "pendapatan", sedangkan akuifer, gletser, lahan basah, dan reservoir alami adalah "tabungan".

Ketika penggunaan air melebihi jumlah yang dapat diperbarui, manusia mulai mengambil dari cadangan tersebut. Jika berlangsung dalam jangka panjang, cadangan air dan fungsi ekosistem bisa mengalami kerusakan yang sulit dipulihkan.

Berapa Banyak Orang yang Terdampak

Data UNDRR menunjukkan skala krisis yang luas. Sebanyak 75% penduduk dunia berada di negara yang mengalami ketidakamanan air, dan sekitar 3 miliar orang menghadapi kondisi penyimpanan air yang tidak stabil.

Angka paling mencolok: sekitar 4 miliar orang menghadapi kelangkaan air parah setiap tahun. Jumlah ini setara dengan separuh populasi dunia yang harus berjuang mendapatkan akses air bersih secara konsisten.

Wilayah Mana yang Sudah Menunjukkan Tanda Krisis

Laporan tersebut mencatat sejumlah tanda bahwa water bankruptcy telah terjadi di berbagai wilayah. Tanda-tanda itu meliputi penurunan cadangan air tanah, penurunan permukaan tanah, hilangnya danau dan lahan basah, serta kerusakan ekosistem.

Fenomena ini berkaitan dengan berbagai tekanan terhadap sumber daya air. Pengambilan air tanah secara berlebihan, alokasi air yang melampaui kemampuan sumber daya, degradasi lahan, deforestasi, dan pencemaran menjadi pemicu utama.

Pemanasan global memperparah kondisi tersebut. Perubahan iklim mengganggu pola curah hujan dan mempercepat penguapan, sehingga kemampuan alam untuk mengisi kembali cadangan air semakin menurun.

Mengapa Water Bankruptcy Bukan Berarti Bumi Kehabisan Air

Penting dipahami bahwa water bankruptcy tidak berarti bumi kehabisan air. Air tetap berada dalam siklus hidrologi dan tidak hilang dari planet ini.

Masalahnya, manusia menggunakan air lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisi kembali cadangan tersebut. Ketika "tabungan" air terus dikuras, kemampuan sistem air untuk kembali ke kondisi sebelumnya juga semakin terbatas.

Kondisi ini menciptakan risiko jangka panjang. Ekosistem yang bergantung pada cadangan air bawah tanah dan permukaan bisa runtuh, mengancam ketahanan pangan, energi, dan kehidupan masyarakat di banyak negara.

Seruan Global Reset dalam Pengelolaan Air

UNDRR menekankan perlunya global reset, yakni perubahan mendasar dalam cara dunia mengelola sumber daya air. Pendekatan lama yang hanya fokus pada penyediaan air bersih dinilai tidak lagi memadai.

Perubahan yang diminta mencakup pengelolaan air tanah yang berkelanjutan, alokasi air yang mempertimbangkan daya dukung sumber daya, serta perlindungan ekosistem yang berfungsi sebagai penyimpan air alami.

Bagi Indonesia, peringatan ini relevan mengingat sejumlah daerah sudah mengalami penurunan muka air tanah dan kekeringan musiman. Tekanan terhadap sumber daya air diprediksi meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan ekspansi industri.

Tanpa perubahan mendasar dalam tata kelola air, risiko yang dihadapi miliaran orang akan terus membesar. Peringatan UNDRR menjadi pengingat bahwa krisis air bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini.

Follow www.jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks